UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN PROGRAM MELALUI PELATIHAN TERPROGRAM BAGI GURU PEMBIMBING DAERAH BINAAN PADA TAHUN 2008

Posted: September 25, 2011 in MAKALAH

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pemahaman tentang Peningkatan hasil belajar sebagai suatu upaya peningkatan mutu pendidikan untuk mengembangkan dan memberdayakan sekolah melalui pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pelaksanaannya didukung oleh warga sekolah dan stakeholder yang ada di lingkungan sekolah tersebuta. Tujuannya meningkatkan hasil belajar matematika di kelas IV SD N Tambakrejo dan juga  untuk meningkatkan kualitas sekolah. Ada beberapa prinsip untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan menarik simpati masyarakat : pengelolaan sekolah harus terbuka, kebersamaan, berkelanjutan, menyeluruh, bertanggungjawab, demokratis, mandiri, berorientasi pada mutu hasil belajar, dapat mencapai Standar Pelayanan Minimal, dan mempunyai semboyan bahwa pendidikan untuk semua tidak ada diskriminasi.
Tujuan akhir meningkatkan hasil belajar agar para guru dan kepala sekolah :
1.      Meningkatkan hasil belajar dengan memilih model pembelajaran yang tepat dan hasilnya optimal.
2.      Mendayagunakan kemampuan potensi guru untuk peningkatan hasil belajar.
3.      Meningkatkan tanggungjawab sekolah dan masyarakat terhadap peningkatan mutu pendidikan
4.      Meningkatkan kinerja guru dan kepala sekolah dalam upaya peningkatan hasil belajar matematika  siswa.
5.      Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang hasil pembelajaran yang akan dicapai. Dari latar belakang tersebut peningkatan hasil belajar tidak dapat lepas dari pandangan umum bahwa layanan pembelajaran merupakan bagian integral dari sistem pendidikan. Pada dasarnya layanan pembelajaran di sekolah merupakan bagian integral dari penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Ada 3 sub sistem layanan pendidikan di sekolah yang harus diselenggarakan yaitu :
1.       Perhatian guru ketika menyampaikan materi pelajaran matematika
2.      Rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika.
3.      Hasil belajar matematika dibawah KKM.
Hal tersebut  yang merupakan bidang garapan layanan  guru dan kepala sekolah.
Pendidikan yang bermutu efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan tersebut di atas. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administrasi dan instruksional dengan mengabaikan bidang pembelajaran akan menghasilkan peserta didik yang kurang trampil dalam aspek akademis  (Depdinas: 2007)
Pendekatan dan tujuan layanan pembelajaran  pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi yang monoton sehingga anak menjadi bosan tetapi yang diharapkan agar guru dapat berkreatif untuk memilih model pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa sehingga proses pembelajaran menyenangkan. Untuk mencapai hasil optimal gunakanlah alat peraga pada saat menyampaikan pembelajaran.Dengan demikian layanan pembelajaran di sekolah seharusnya diarahkan pada upaya meningkatkan hasil belajar siswa terutama pada mata pelajaran matematika di kelas IV. Sekolah hendaknya mampu memfasilitasi alat peraga yang lengkap agar pembelajaran lebih optimal hasilnya.
Dengan  perubahan model pembelajaran  tersebut maka pengelolaan dan pengembangan layanan pembelajaran dilakukan dengan cara yang menarik perhatian siswa sehingga tidak terkesan yang terkesan  pembelajaran asal jalan begitu saja. Jika layanan pembelajaran menginginkan  pencapaian target yang betul-betul maksimal dan mampu memunculkan perubahan-perubahan yang positif pada diri peserta didik, maka pengelolaan dan pengembangan program layanan pembelajaran harus memanfaatkan model pembelajaran yang efektif dengan pendekatan yang rasional dan ilmiah.
Berbicara masalah pengelolaan, tentunya tidak lepas dari tahapan langkah-langkah yang harus dilaksanakn dalam layanan pembelajaran. Mulai dari perencanaan atau penyusunan program, melaksanakan program, mengevaluasi layanan pembelajaran yang dilakukan sampai dengan pelaksanaan tindak lanjut atas dasar hasil analisis yang dilakukan serta pelaporan kegiatan merupakan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam layanan pembelajaran.
Penyusunan program merupakan suatu kegiatan yang amat penting dalam layanan pembelajaran. Bahkan dalam organisasi apapun, program mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam pencapaian tujuan suatu organisasi. Oleh karena itu diperlukan kecermatan dan ketepatan dalam menyusun layanan program pembelajaran. Terlebih dengan perubahan paradigma dalam memilih model pembelajaran, tentunya dibutuhkan suatu program yang sesuai dengan paradigma baru dalam layanan pembelajaran agar dapat memperoleh hasil belajar yang optimal..
Dengan demikian maka sudah merupakan keharusan seorang guru  mampu menyusun RPP yang sesuai dengan paradigma baru yaitu yang berorientasi disesuaikan dengan model pembelajaran serta sesuai pada kebutuhan peserta didik.
Dari pengamatan di lapangan terutama pada daerah binaan yang menjadi tanggung jawab peneliti, program pembelajaran terutama RPP  hanya asal dibuat. Dari tahun ke tahun semua program sama. Dari 8 SD Negeri sekolah binaan RPP  sama bahkan tidak mustahil satu kecamatan sama karena buatan KKG. Dari programnyapun kurang realistis serta ada kecenderungan menyamakan dengan program layanan pembelajaran yang dibuat guru. Dengan kondisi seperti ini, layanan pembelajaran di sekolah  akan tidak bisa berfungsi optimal.     
B. Identifikasi Masalah
     Berdasarkan latar belakang masalah seperti yang tersebut di atas dapat dikatakan bahwa program layanan pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan  hasil belajar itu sendiri. Namanun kenyataanya dilapangan, program hanya asal dibuat dari tahun ke tahun sama bahkan semua sekolah di kecamatan sama. Padahal dalam manajemen berbasis sekolah, mestinya  pembelajaran harus sesuai dengan karakteristik sekolah masing-masing. Kenyataan ini dapat diidentifikasi masalah-masalah sbb:
1.      Kurangnya perhatian sekolah terhadap proses pembelajaran
2.   Kurangnya perhatian kepala sekolah selaku penanggung jawab sekolah terhadap  proses pembelajaran
3.   Kurangnya kemampuan guru untuk menyusun program dan mengembangkan kreatifitas dalam memilih model pembelajaran.
4. Kurangnya pengetahuan warga sekolah tentang model pem,belajaran yang sesuai di sekolah.
5. Kurangnya pembinaan terhadap guru  oleh kepala sekolah ataupun pengawas.
C. Pembatasan Masalah
Peran  guru sangat besar dalam mewujudkan keberhasilan pembelajaran matematika  di sekolah, termasuk di dalamnya kemampuan menyusun program pembelajaran , RPP, proses pembelajaran  dan hasil belajar di sekolah. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti hanya membatasi pada masalah :
1. Kemampuan guru  dalam mencapai hasil belajar matematika di kelas IV SD N Tambakrejo.
2. Belum teridentifikasi manfaat pelatihan terprogram dalam pembinaan guru dalam memilih model pembelajaran yang sesuai oleh pengawas.    
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
Apakah dengan Pelatihan Terprogram akan mampu meningkatkan kemampuan guru  dalam memilih dan menyusun program pembelajaran ?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan manfaat pembinaan pengawas melalui pelatihan terprogram dalam upaya meningkatkan kemampuan guru dalam memilih dan menyusun program pembelajaran di sekolahnya.
           
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik bagi guru , kepala  sekolah , sekolah maupun  UPT  Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo.
1.      Bagi guru  dan kepala sekolah:
  1. Meningkatkan kemampuan dalam memilih dan menyusun program pembelajaran di sekolah.
  2. Memberikan tambahan pengetahuan tentang perkembangan model pembelajaran yang efektif di sekolah.
2.      Bagi sekolah
  1. Membantu sekolah dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
  2. Meningkatkan efektifitas pembelajaran dengan model pembelajarann yang yang digunakan di sekolah.
3.      Bagi UPT Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo
Sebagai masukan UPT pendidikan dalam mengambil kebijakan terutama dalam upaya pembinaan profesionalisme guru dan kepala sekolah.
BAB.II
KAJIAN TEORI
  1. Pengertian  Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Istilah Model Pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran yang efektif di antara 21 model pembelajaran yang lain. Untuk mengetahui pengertian terhadap pe4ncapaian 4 pilar pembelajaran, di antaranya adalah :
1.      Learning to know (belajar untk tahu)
2.      Learning to do ( belajar untuk melakukan)
3.      Learning to be (belajar untuk menjadi diri sendiri)
4.      Learning to live together (belajar bersama dengan orang lain)
Jika guru dapat membekali siswanya dengan 4 pilar tersebut maka fondasi siswa akan berdiri kokoh dan guru tersebut termasuk berkualitas. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw  harus diorientasikananya terdaqpat pada inovasi sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum saja tetapi proses pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting.  Inovasi dalam proses pembelajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan prestasi siswa terutama hasil belajar siswa. Inovasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran  dan metode pembelajaran. Kewajiban guru tidak hanya transfer of knowlwdge saja atau hanya memberikan materi pelajaran tanpa mengingat hal-hal lain tetapi harus dapat mengubah tingkah laku siswa serta berusaha memberikan dorongan yang positif sehingga siswa termotifasi untuk rajin belajar dan ingin selalu berusaha agar memperoleh hasil belajar yang optimal terutama matematika di kelas IV SD N Tambakrejo. Guru pada saat melaksanakan pembelajaran harus berusaha untuk menciptakansituasi menyenangkan serta dapat memberi arahan yang dapat menyebabkan siswa kerasan dalam suasana belajar menyenangkan, agar mereka bisa berkembang semaksimal mungkin. Guru tidak hanya mengolah otak siswanya tetapi juga mengolah jiwa anak disiknya. Apabila seorang guru hanya mengolah otak saja tanpa mempedulikan jiwa anak didiknya, hasilnya anak akan tumbuh menjadi manusia robot yang tak pernah berhenti.
Anak yang cerdas, bukan saja anak yang nilai ulangannya baik, nilai rapornya tinggi, tapi emosionalnya dan fungsi motoriknya berjalan dengan baik sehinggaq tugas guru adalah juga menciptakan iklim belajar dalam pembelajaran yang sehat dan menyenangkan, memberikan dorongan kepada para siswanya agar mempunyai motifasi yang tinggi. Karenanya guru harus mengetahui model-model pembelajaran sebagai bagian dalam perencanaan mengajarnya, agar siswa dapat memahami materi yang diberikan oleh guru secara seksama. Metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan. Penggunaan model pembelajaran yang tepat akan menentukan keefektifan dan keefisienan dalam proses pembelajaran. Guru senantiasa mampu memilih dan menerapkan metode yang tepat sesuai dengan pokok bahasan/KD yang diajarkan. Tyerdapat beberapa metode yang telah lama digunakan oleh para guru antara lain : metode ceramah, metode tanya jawab, dan metode resitasi. Serentetan metode tersebut bisa dikatakan metode konvensional. Model pembelajaran konvensional yang selama ini digunakan oleh sebagian besar guru yang tidak sesuai dengan tuntutan zaman, karena pembelajaran yang dilakukan kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk aktif mengkonstruksi pengetahuannya.
Salah satu model pembelajaran yang dimungkinkan mampu mengantisipasi kelemahan model pembelajaran konvensional adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif jigsaw. Pembelajaran model ini lebih meningkatkan kerjasama antar siswa. Kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari siswa-siswa yang bekerja sama dalam suatu perencanaan kegiatan. Dalam pembelajaran ini setiap anggota kelompok diharapkan dapat saling bekerjasama dan bertanggungjawab baik kepada dirinya sendiri maupun pada kelompoknya.
  1. Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw di Sekolah
Elliot Aronson’s ( Depdiknas, 2009) menyatakan Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan  dan didesain untuk meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap pembelajaranny7a sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan materi tersebut kepada kelompoknya. Sehingga baik kemampuan secara kognitif maupun social siswa sangat diperlukan.
Dari beberapa definisi di atas, dapat dikemukakan bahwa unsur-unsur pokok dalam pembelajaran Model Kooperatif Jigsaw adalah sebagai berikut:
  1. Pembelajaran yang bersifat positif karena mereka bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan.
  2. Interaksi antara siswa semakin meningkat dan siswa membantu yang lain dalam meraih kesuksesan.
  3. Tanggung jawab siswa dalam kelompok membantu siswa yang membutuhkan bantuan.
  4. Keterampilan interpersonil dan kelompok dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan .
  5. Proses belajar kooperatif dan kelompok mendiskusikan tujuan dengan baik dan kerjasamanya juga baik
Dalam hal ini harus diingat bahwa pada akhirnya kelompok tersebut dapat memecahkan masalahnya dengan kemampuannnya.  
Dengan demikian yang dimaksud  Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw adalah merupakan proses bantuan pembelajaran  secara ilmiah dan profesional yang diberikan oleh guru kepada anak didik  agar ia dapat meningkatkan nilai hasil belajarnya dengan optimal. Anak  mampu bekerjasama untuk melaksanakan pembelajaran dengan model Jigsaw.
  1. Prinsip Pembelajaran Kooperatif Jigsaw pada Matematika Kelas IV
Konsep utama dari belajar kooperatif jigsaw menurut Slavin (1995) adfalah sebagai berikut :
1.      Penghargaan kelompok yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.
2.      Tanggungjawab individual bermakna bahwa kesuksesan kelompok bergantung pada belajar individual anggota kelompok.
3.      Kesempatan yang sama untuk sukses dengan cara meningkatkan cara belajar mereka sendiri dalam kelompoknya. 
BAB. III
 METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Sekolah Negeri Tambakrejo yang berada dalam binaan kepengawasan peneliti yaitu kegiatan dilaksanakan  selama 1 bulan yaitu dari  tanggal 18 Oktober 2010 sampai dengan 19 November 2009. Kegiatan penelitian ini  diimplementasikan oleh satu orang peneliti (guru) dan melibatkan 2 orang observer (mitra kepala sekolah dan guru ), yaitu  Wiwik Trisnaningsih, S. Pd. dan Maryati, S.Pd.
Subyek dari penelitian ini adalah  guru kelas IV dari Sekolah Dasar Negeri Tambakrejo dengan perincian sbb:
No
N a m a   Sekolah
Jumlah
1
SD Negeri Tambakrejo
1
 Jumlah
1 orang
 Tujuan Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk menganalisis hasil belajar  melalui model pembelajaran kooperatif jigsaw pada mata pelajaran matematika di kelas IV SD N Tambakrejo Purworejo.
B.  Operasional Variabel
Ada tiga faktor yang diteliti untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan:
1)  Faktor Guru Kelas IV
Kecakapan guru kelas IV sebagai peserta  dalam kecakapan menggali informasi, kecakapan mengolah informasi, ketrampilan mempraktikkan informasi.
2)       Faktor Kepala Sekolah
Keterampilan pengawas sebagai fasilitator  dalam memberikan pelatihan  meliputi: mengelola kelas agar suasana kelas menyenangkan,  memotivasi minat peserta  untuk bertanya serta memandu peserta mempraktekan teori yang diperoleh.
3)   Faktor siswa kelas IV
Dengan materi mata pelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran yang lama hasil belajar siswa ada di bawah KKM, sehingga upayanya adalah menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian yang terdiri atas manusia, benda, hewan, tumbuhan, gejala, nilai tes, atau peristiwa, sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian (Nawawi, 1993).
Sasaran Penelitian : Guru  dan Kepala SD N Tambakrejo Purworejo.
Variabel Penelitian
1)      Hasil belajar siswa
2)      Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
3)      Mata pelajaran matematika di kelas IV
Sampel
Sampel adalah bagian dari pupulasi yang menjadi sumber data sebenarnya dalam suatu penelitian. Artinya sampel adalah sebagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi (Nawawi, 1993).
Penentuan Sampel
Teknik penentuan sampel sangat penting perannya dalam penelitian. Berbagai teknik penentuan sampel pada hakikatnya adalah untuk memperkecil kesalahan generalisasi dari sampel ke populasi. Hal ini dapat dicapai apabila diperoleh sampel yang representatif. Artinya sampel yang benar-benar mencerminkan populasinya.
Ada empat faktor dalam penentuan sampel yaitu :
1.      Tingkat keseragaman (degree of homoginity) dan populasi semakin homogen populasi itu, makin kecil sampel yang perlu diambil.
2.      Tingkat presesi yang dikehendaki dalam penelitian. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki makin besar anggota sampel yang harus diambil. Semakin besar sampel akan semakin kecil penyimpangan terhadap nilai populasi yang dicapai.
3.      Rencana analisis dikaitkan dengan kebutuhan untuk analisis. Kadang-kadang besarnya sampel masih belum mencukupi kebutuhan analisis, sehingga mungkin diperlukan sampel yang lebih besar.
4.      Teknik penentuan sampel yang digunakan. Penentuan ukuran sampel dipengaruhi oleh teknik penentuan sampel yang digunakan.
Sasaran Penelitian :
1) Siswa Kelas IV SD Negeri Tambakrejo Purworejo       
D.  Pengumpulan Data dan Analisis  Data
1) Jenis Data dan Teknik Pengumpulannya
Di dalam penelitian ini ada dua jenis data yang akan dikumpulkan yaitu data tentang kemampuan hasil pembelajaran matematika kelas IV di S D Tambakrejo dan data tentang keaktifan peserta selama mengikuti pembinaan.
Untuk data tentang kemampuan menyusun program Pembelajaran  diambil dari hasil pekerjaan peserta sedang keaktifan peserta dalam mengikuti pembinaan mempergunakan teknik observasi terprogram. Dengan demikian tentunya dibutuhkan lembar penilaian untuk hasil pekerjaan peserta serta lembar pengamatan dari data hasil observasi.
2) Analisis Data
 Dalam penelitian ini dipergunakan teknik analisis deskriptif
2) Validasi Data
Validasi data dilakukan melalui:
a.     Triangulasi dilakukan dengan memeriksa kebenaran data dengan menggunakan sumber lain, yaitu dengan membandingkan data  hasil belajar siswa yang diperoleh peneliti sebelum menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw dengan data yang diperoleh sumber lain hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw yang mengajar di kelas itu. Validasi data dengan triangulasi dapat dilakukan dengan membandingkan hasil dari siswa dengan hasil dari observer dan peneliti (guru). Tujuan  dari triangulasi adalah untuk meyakinkan data dengan kepercayaan data maksimum.
b.     Member Chek untuk meninjau kembali kebenaran dan kesahihan data penelitian dengan mengkonfirmasi pada sumber data. Peneliti mengkonfirmasikan data temuan kepada guru maupun siswa melalui kegiatan refleksi setiap akhir kegiatan pembelajaran.
c.     Audit Trial dilakukan dengan cara mendiskusikan kebenaran dan prosedur pengumpulan data dengan peneliti senior dan teman-teman peneliti sejawat.
3)  Interpretasi Data
Data yang didapat saat kegiatan pembelajaran pada setiap siklus diinterpretasikan atau jabarkan secara narasi merujuk pada acuan teoritik, norma-norma praktis yang disepakati atau berdasarkan persepsi guru mengenai situasi pembelajaran yang baik pada tindakan selanjutnya, sehingga diperoleh kerangka referensi yang dapat memberikan makna terhadap tafsiran itu.
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara:
a.        diskusi yang dilaksanakan dari penafsiran pada setiap kegiatan akhir siklus dengan cara membahas dan mengkonfirmasi pada teman guru,
b.        melihat implikasi hasil penelitian terhadap kemajuan siswa yang disimpulkan dari hasil diskusi,
c.        mengidentifikasi unsur klasifikasi dalam kepedulian yang diungkapkan dalam forum ini terkait dengan perkembangan aktual di bidang profesi yang terjadi di lembaga masing-masing,
d.        menyadari akan perubahan dan permasalahan yang ditimbulkannya untuk dibahas dalam diskusi, sesuai dengan perspektif peneliti dengan sesama guru sebagai mitra diskusi,
e.        mengidentifikasi keterbatasan dalam penelitian yang dilakukan selanjutnya dibahas dalam diskusi untuk penelitian-penelitian lanjutan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan solusi terhadap permasalahan yang belum dikerjakan dalam penelitian yang direkomendasikan.
C.  Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap
 yaitu: persiapan,  pelaksanaan, observasi dan refleksi. Batasan setiap siklus adalah satu konsep dasar, jadi setiap siklus terdiri dari satu konsep.
Siklus Pertama  
1. Perencanaan
Konsep atau materi pelatihan  pada siklus 1 adalah : 1) Alur penyusunan 2) Penyusunan profil  c) Penyusunan Rencana Operasional.  Siklus pertama ada dua pertemuan. Kegiatan pertama  pada pertemuan pertama adalah secara pleno mendengarkan penyampaian materi tentang penyusunan program.  Pada pertemuan kedua, kedua dipandu untuk memahami dan mempraktekan menyusun Program  pembelajaran dengan model kooperatif jigsaw di SD N Tambakrejo.
Di dalam perencanaan ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
b.        Menetapkan sekolah  penelitian,  waktu mulai penelitian, materi yang akan dilaksanakan , pelaksanaan kegiatan  yang diamati  oleh observer, pelaksanaan refleksi, kolaborator yang dilakukan setiap selesai pemberian tindakan.
c.        Menyusun rencana pembinaan pelatihan  dan alokasi waktu.
d.        Menyiapkan alat bantu pelatihan
e.   Instrumen penelitian
Data yang diambil dengan instrumen dalam penelitian ini adalah data aktivitas peserta  dalam pembinaan, frekuensi aktivitas yang dilakukan peserta selama kegiatan pembinaan pelatihan, kinerja pengawas dalam pembinaan  dan hasil kerja peserta  setiap akhir siklus sebagai data pendukung. Untuk mengambil data-data tersebut maka dibuat instrumen seperti pada tabel berikut..
Tabel 4. Jenis Instrumen, sasaran, petugas dan waktu pelaksanaan.
No
Jenis data
Jenis instrument
Sasaran
Petugas
waktu
1
Data kualitatif
a.    Aktivitas peserta
b.    kinerja pengawas
a.  Lembar observasi
b.  Pedoman wawancara
c.  Catatan lapangan
d.  lembar observasi
Peserta
Peserta
Pengawas  + peserta
Guru
Observer
Observer
Observer
Observer
saat pembinaan
setelah pemb
saat pembin
2
Data pendukung
a. Hasil kerja peserta
Berkas hasil kerja
LKS
Guru
setelah pembinaan
2.  Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan  pada siklus I direncanakan sebagai berikut.
 a). Melaksanakan pelatihan  sesuai dengan Rencana Pelatihan  yang telah disiapkan. yang meliputi.
1) Konsep dasar tentang model pembelajaran kooperatif jigsaw.
2) Program pembelajaran kooperatif jigsaw di SD Tambakrejo.
3) Tahapan dalam penyusunan program pembelajaran kooperatif jigsaw di SD N Tambakrejo.
4) Penyusunan Program pembelajaran kooperatif jigsaw  di SD N Tambakrejo.
Langkah-langkah:
a.        Membuka pelatihan dengan mengucap salam.
b.       Memberi apresiasi pada peserta yang telah hadir.
c.        Memberikan rasa simpati dan mendoakan bagi yang berhalangan hadir.
d.       Memotivasi peserta dengan memberikan informasi yang berkaitan dengan materi pelatihan.
e.        Menuliskan kompetensi yang akan dicapai dalam pelatihan.
f.         Menyampaikan materi pelatihan
g.        Mendemonstrasikan cara penyusunan program pembelajaran kooperatif jigsaw.
h.        Memberi tugas kepada peserta untuk mencoba menyusun program pembelajaran kooperatif jigsaw.
i.          Membimbing  peserta dalam menyusun program  pembelajaran kooperatif jigsaw.
3.  Melakukan Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi dilakukan oleh peneliti sendiri dan teman sejawat selaku kolaborator.
a. Observasi oleh peneliti
Peneliti yang sekaligus sebagai trainer dalam pelatihan ini akan mengamati aktivitas peserta selama melakukan pelatihan  serta seluruh kejadian yang terjadi selama pelatihan berlangsung pada siklus pertama. Aktifitas peserta mulai dari kehadiran, keaktifan mengikuti penjelasan materi dari pelatih, memperhatikan contoh penyusunan program oleh pengawas selaku pemberi pelatihan, selama kerja kelompok sampai dengan kegiatan pengecekan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan pada siklus pertama. Hasil pengamatan bisa dalam bentuk narasi deskriptif maupun foto-foto selama kegiatan berlangsung.
b. Obervasi oleh observer
Kegiatan observasi yang dilakukan observer meliputi semua aktivitas baik peserta pelatihan maupun pengawas peneliti selaku pemberi pelatihan. Observasi berpedoman pada lembar observasi yang telah disepakati bersama antara pengawas peneliti dengan obsever. Hal-hal yang muncul selama kegiatan pada siklus pertama namun tidak terdapat pada lembar observasi dan dipandang perlu maka dicatat tersendiri pada lembar lain.
4. Refleksi
Pada tahap refleksi, ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan.  Pada awalnya semua data yang telah dikumpulkan baik oleh peneliti maupun observer dikumpulkan.  Data ini bisa data aktivitas kegiatan peserta maupun tingkat pemahaman peserta terhadap materi pelatihan yang telah diberikan. Dari data tersebut dianalisa dan didiskusikan antara peneliti dan observer. Dari hasil  analisa dan diskusi tersebut akan diketahui hal-hal mana dari kegiatan pelatihan itu yang dikategorikan berhasil dan peneliti merasa puas serta hal-hal mana yang dirasa belum berhasil serta ada ketidak puasan dari peneliti. Hal-hal yang dirasa belum berhasil serta kurang puas maka untuk selanjutnya direncanakan diperbaiki pada siklus kedua.
Siklus Kedua  
1. Perencanaan
Konsep atau materi pelatihan  pada siklus kedua  adalah : 1) Penyusunan Satuan Program  2) Evaluasi Program peningkatan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif jigsaw  serta Rencana Tindak Lanjut.  Pada  siklus kedua  ini  ada dua pertemuan.
Pada pertemuan pertama peserta diajak mereview kembali tentang alur penyusunan program serta penyusunan rencana  pembelajaran kooperatif jigsaw yang sudah dilakukan , mencoba memperbaiki program yang telah dibuat atas dasar review serta memperhatikan penjelasan fasilitator tentang penyusunan satuan program, evaluasi program pembelajaran kooperatif jigsaw pada mata pelajaran matematika di kelas IV SD N Tambakrejo serta Pelaporan hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw. Pada pertemuan kedua siswa secara berkelompok dipandu untuk melaksanakan pembelajaran jigsaw  yang merupakan penjabaran dari Rencana Operasional, Membuat Rencana Evaluasi Program Pembelajaran kooperatif jigsaw.
Di dalam perencanaan ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan:
a.        Menyusun  rencana pelatihan  untuk siklus kedua.
b.     Menyiapkan alat bantu pelatihan
e.   Instrumen penelitian
Data yang diambil dengan instrumen dalam penelitian ini adalah data aktivitas peserta  dalam pelatihan, frekuensi aktivitas yang dilakukan peserta selama kegiatan pembinaan pelatihan, kinerja pengawas dalam pembinaan pelatihan dan hasil kerja peserta  setiap akhir siklus sebagai data pendukung. Untuk mengambil data-data tersebut maka dibuat instrumen seperti pada tabel berikut..
Tabel 4. Jenis Instrumen, sasaran, petugas dan waktu pelaksanaan.
No
Jenis data
Jenis instrument
Sasaran
Petugas
waktu
1
Data kualitatif
a.Aktivitas peserta
b.kinerja pengawas
a.  Lembar observasi
b.  Pedoman wawancara
c.  Catatan lapangan
d.  lembar observasi
Peserta
Peserta
Pengawas  + peserta
Guru
Observer
Observer
Observer
Observer
saat pembinaan pelat
setelah pemb pelat
saat pembin pelat
saat pembin pelat
2
Data pendukung
a. Hasil kerja peserta
Berkas hasil kerja
Lembar kerja peserta
Pengawas sebagai fasilitator
setelah pembinaan pelatiahn
2.  Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan pada siklus I direncanakan sebagai berikut.
 a). Melaksanakan pelatihan  sesuai dengan Rencana Pelatihan  yang telah disiapkan. yang meliputi.
1) Memperbaiki pekerjaan atas dasar review yang dilakukan terhadap kegiatan siklus pertama.
2) Penyusunan Satuan  Program Pembelajaran kooperatif jigsaw di sekolah.
3) Evaluasi program  Pembelajaran Kooperatif Jigsaw di sekolah.  
Langkah-langkah:
a.  Membuka pelatihan dengan mengucap salam.
b.  Memberi apresiasi pada peserta yang telah hadir.
c.  Memberikan rasa simpati dan mendoakan bagi yang berhalangan hadir.
d.  Memotivasi peserta dengan memberikan informasi yang berkaitan dengan materi pelatihan.
e.  Menuliskan kompetensi yang akan dicapai dalam pelatihan.
f.  Menyampaikan materi pelatihan
g.  Mendemonstrasikan cara penyusunan program pembelajaran kooperatif jigsaw di sekolah serta evaluasi program  pembelajaran kooperatif jigsaw di sekolah.
h. Memberi tugas kepada peserta untuk mencoba menyusun program  pembelajaran kooperatif jigsaw dengan kerja kelompok.
i. Membimbing peserta dalam menyusun program pembelajaran kooperatif jigsaw.
3.  Melakukan Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Observasi dilakukan oleh peneliti sendiri dan teman sejawat selaku kolaborator.
a. Observasi oleh peneliti
Peneliti yang sekaligus sebagai trainer dalam pelatihan ini akan mengamati aktivitas peserta selama melakukan pelatihan  serta seluruh kejadian yang terjadi selama pelatihan berlangsung pada siklus pertama. Aktifitas peserta mulai dari kehadiran, keaktifan mengikuti penjelasan materi dari pelatih, memperhatikan contoh penyusunan program oleh pengawas selaku pemberi pelatihan, selama kerja kelompok sampai dengan kegiatan pengecekan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan pada siklus pertama. Hasil pengamatan bisa dalam bentuk narasi deskriptif maupun foto-foto selama kegiatan berlangsung.
b. Obervasi oleh observer
Kegiatan observasi yang dilakukan observer meliputi semua aktivitas baik peserta pelatihan maupun pengawas peneliti selaku pemberi pelatihan. Observasi berpedoman pada lembar observasi yang telah disepakati bersama antara pengawas peneliti dengan obsever. Hal-hal yang muncul selama kegiatan pada siklus pertama namun tidak terdapat pada lembar observasi dan dipandang perlu maka dicatat tersendiri pada lembar lain.
4. Refleksi
Pada tahap refleksi, ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan.  Pada awalnya semua data yang telah dikumpulkan baik oleh peneliti maupun observer dikumpulkan.  Data ini bisa data aktivitas kegiatan peserta maupun tingkat pemahaman peserta terhadap materi pelatihan yang telah diberikan. Dari data tersebut dianalisa dan didiskusikan antara peneliti dan observer. Dari hasil  analisa dan diskusi tersebut akan diketahui hal-hal mana dari kegiatan pelatihan itu yang dikategorikan berhasil dan peneliti merasa puas serta hal-hal mana yang dirasa belum berhasil serta ada ketidak puasan dari peneliti. Hal-hal yang dirasa belum berhasil serta kurang puas maka untuk selanjutnya direncanakan diperbaiki pada siklus kedua.
E. Rancangan Uji Hipotesis
          Hipotesis akan diuji secara deduktif, yaitu menjawab alasan-alasan logis dari pernyataan-pernyataan ilmu berupa teori atau hasil kajian pustaka sebagai alur fikir uji hipotesis dengan analisis jalur, caranya memasukkan kedalam diagram jalur, dituliskan aplikasinya pada populasi penelitian. Untuk hipotesis secara induktif dengan menganalisis data empiris dengan menggunakan metode statistik kemudian digeneralisasikan pada populasi penelitian dengan menggunakan uji F dan Uji t.
F. Lokasi dan Jadwal Penelitian Tindakan Kelas
          Lokasi Penelitian
          Untuk efisiensi waktu dan efisiensi dalam pelaksanaan penelitian, maka penulis melakukan penelitian di lokasi SD Negeri Tambakrejo Purworejo. SD tersebut merupakan tempat bertugas peneliti. Peneliti akan membutuhkan waktu 1 (satu) bulan dan akan dimulai pada bulan Oktober 2010 dengan jadwal sebagai berikut :
Jadwal Penelitian Tindakan Kelas Tahun 2010
No
Kegiatan
Minggu ke-
1
2
3
4
1
2
3
4
5
6
Bimbingan usulan penelitian
Persiapan pembuatan angket penelitian
Persiapan perbaikan usulan penelitian
Penelitian Kelas
Penulisan hasil penelitian
Konsultasi, bimbingan, dan penulisan
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s