Melek Internet Sejak Dini ( Proses KBM Menggunakan Internet Di SD 01 Menteng, Jakarta )

Posted: October 23, 2011 in INFORMASI

KBR68H – Internet sudah jadi kebutuhan banyak orang, termasuk guru dan murid di sekolah. SD 01 Menteng, Jakarta, secara aktif menggunakan internet untuk proses belajar mengajar sehari-hari. Reporter KBR68H Anto Sidharta mengintip bagaimana cara sekolah ini membangun generasi melek internet sejak usia SD, dalam cerita berikut.
Internet Masuk Kelas
“Aya, caranya ngedit tulisan jadi warna lain, caranya pencet edit. Ada tulisan T ini kan, ya udah pencet. Abis itu pilih warnanya, misalnya ungu.Terus itu ke bawah terus save.”
Luthmilla membantu teman sebangkunya, Soraya, mengerjakan tugas dari guru mereka. Tangan kanan Luthmilla dengan cekatan menggerakkan mouse atau tetikus di depan monitor komputer layar datar di meja Soraya. Itu dilakukan Luthmilla setelah tugas pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan atau PKn yang diberikan guru kelar ia lakukan.
Luthmilla dan Soraya baru kelas tiga SD. Sekolah mereka di SD 01 Besuki, Menteng Jakarta, tempat Presiden Amerika Serikat Barack Obama bersekolah dulu.Di meja lainnya, Kirey menerangkan pada teman sebangkunya cara untuk mengunduh gambar-gambar dari situs pencari Google, lantas menggunggahnya ke laman internet untuk belajar mereka. “Informasi tentang provinsi kita upload ke situ biar lebih menarik ada gambarnya.”
Dengan sigap, Kirey pun mengetik huruf-huruf di papan ketik komputernya untuk mencari gambar rumah adat salah satu propinsi di tanah air.
Gambar rumah adat dari internet itu disimpan dan dimasukkan dalam halaman tugas mereka yang ada di layar monitor komputer.
Inilah beberapa materi tugas kelas III di SD 01 Besuki Menteng. Pelajaran kali ini terkait dengan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan atau PKn tentang keragaman budaya bangsa. Ada 9 hal yang harus dikerjakan siswa saat itu, yaitu mencari informasi tentang rumah adat, pakaian adat, senjata tradisional, informasi tentang provinsi, tarian daerah, lagu daerah, serta tradisi dan adat setempat.

Guru di kelas itu, Ichal mengevaluasi hasil tugas anak didiknya. Di kelas papan tulis digantikan layar yang menutupi papan tulis. Apa yang tertera di komputer, disambungkan dengan proyektor untuk tampil ke layar. Mata guru dan semua murid mengarah ke layar.
ThinkQuest
Untuk proses belajar mengajar dengan internet, guru dan murid memakai program thinkquest, produk perusahaan piranti lunak asal Amerika Serikat, Oracle. Program ini dipiilih karena mudah dimengerti anak didik. Dalam program itu, guru dan murid punya halaman khususnya untuk mengerjakan tugasnya masing-masing.
“Semua guru dan anak-anak punya website masing-masing, halaman atau portal thinkquest itu. Kita punya username, password masing-masing. Ketika login, mereka sudah bisa buka halamannya sendiri,” kata guru Ichal. Agenda pekerjaan anak-anak sepanjang hari juga ditaruh dalam laman ThinkQuest itu. “Anak-anak-anak tinggal buka itu, ada yang dikerjakan di halaman saya ada yang di halaman anak-anak…”
Program Think Quest didesain agar diminati anak. Tampilan laman berisi aneka gambar lucu seperti robot, anjing kecil, atau gambar kartun manusia. Tidak sembarangan orang bisa mengakses laman ini. Harus mendaftar dan punya kata sandi dulu. Dalam halaman murid atau guru yang sudah terdaftar, mereka bisa memasukan gambar, tulisan, suara atau dokumen lainnya. Mereka pun bisa saling berinteraksi layaknya situs jejaring Facebook. Mereka pun bisa berinteraksi dengan pengguna Think Quest di negara lain. Nantinya, semua pelajaran bisa memakai program ini.
Kecil-kecil Jago Internet
Aisyah Nurfaizah dan Risyad Kanis Saputra yang baru kelas 3 SD, tak kesulitan belajar lewat internet dengan program thinkquest ini. Termasuk untuk mengerjakan PR di rumah. Murid pun bisa bertanya ke guru lewat program ini, kata guru Ichal. Di sekolah ini, hampir semua siswa punya laptop atau komputer jinjing di rumahnya, sehingga mudah mengakses internet. Kalau tak punya, diminta mengaksesnya lewat warung internet. “Ada salah satu halaman yang kita buat ruang informasi tanya jawab. Saya informasikan ke ketua kelompok, si ini belum mengerjakan tugas ini. Nanti mereka sama temannya mengasih pesan…”
Program Pendidkan Berbasis Internet di SD 01 Besuki Menteng diluncurkan pada Desember 2010 lalu. Kepala Sekolah SD 01 Besuki, Hasimah berharap adanya internet di kelas akan membuat wawasan guru dan siswanya terbuka luas. “Kami punya visi dan misi yaitu budaya lokal dan wawasan global. Sumber belajarnya bukan hanya dari guru, internet pun bisa dimanfaatkan,” katanya.
Sekolahnya menempatkan lima komputer yang tersambung internet di kelas 3 sampai 6 SD, dengan masing-masing kelas terdiri dari 30-an anak. Komputer yang ada di kelas biasanya untuk mengerjakan tugas kelompok dengan internet. Selain itu, di beberapa titik di sekolah juga disiapkan sarana hotspot, supaya bisa mengakses internet tanpa kabel. Selain guru, orang tua murid, anak didik pun bisa mengakses internet di ruang kelas.
Semua layanan internet di sekolah telah diblokir dari berbagai laman yang membahayakan anak seperti kekerasan dan pornografi. Menurut Gunawanza, guru komputer SD 01 Besuki, pemblokiran dilakukan oleh penyedia internet di sekolah itu.
Bagaimana hasil pendidikan berbasis internet ini bagi pada siswa dan guru?
Belajar lewat Internet
Siang itu anak-anak kelas 3 SD 01 Menteng tengah bernyanyi bersama di depan kelas. Lagu berjudul “Anak Kambing Saya” ini berasal dari Provinsi Nusa Tenggara. Ini sebetulnya bukan pelajaran menyanyi, tapi masih pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, PKn, tentang keanekaragaman budaya bangsa.
Mereka tidak menghafal lirik lagu itu. Lirik dibaca di layar, yang disambungkan lewat proyektor dari komputer kelas. “Mana di mana, anak kambing saya, anak kambing saya ada di kampung baru…”
Walau belum semua pelajaran memakai thinkquest, Luthmilla dan Djoko Bayu Murtie mengaku sangat senang dengan belajar dengan memanfaatkan internet di kelas. “Asik gitu internetan, nggak dari buku, pakai komputer lebih asik,” kata Luthmilla.
Perilaku melek internet membawa dampak positif untuk kebiasaan di rumah masing-masing murid. Dina Damayanti, orang tua Kirey mengaku, anaknya semakin bersemangat belajar. Ia tak perlu lagi membujuk anaknya untuk belajar. “Memang tidak selalu buka ThinkQuest, tapi ada permainan yang dia mainkan di situ,” kata Dina. Sementara Retno Tri Mulyati mengatakan anaknya, Farah Ayu, lebih mudah mengerti pelajaran lewat internet, ketimbang hanya membaca buku. “Bagus kalau pelajaran pakai internet, jadi bisa komunikasi juga dengan guru,” katanya.
Belajar-mengajar menggunakan internet, kata guru Ichal, juga sangat efektif meningkatkan pengertian anak soal bahan ajar. “Wawasan mereka menjadi sangat terbuka sekali. Apa yang mereka dapatkan, lebih bisa diingat daripada apa yang didapat dari guru.”
Itu keuntungan buat murid. Apa keuntungan bagi guru? Menurut Kepala Sekolah SD 01 Besuki, Hasimah para guru dilatih untuk benar-benar melek internet. Selain pelatihan dari luar, para guru juga saling mengajari. “Semua berproses,” kata Hasimah.
Lewat pembelajaran internet, anak-anak dituntut dan didorong menjadi lebih mandiri dalam belajar. Pakar komunikasi dan Multimedia dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, BPPT, Bambang Heru. “Kalau pembelajaran aktif, salah satu konten paling efektif supaya orangtua bisa menggunakan internet secara produktif adalah materi pembelajaran,” katanya.
Dikutip dari : KBR68H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s