Pengelolaan Emosi Siswa-Guru dalam Pembelajaran Matematika

Posted: October 27, 2011 in ARTIKEL PENDIDIKAN

Salah satu kekuatan penting dalam proses belajar mengajar adalah keterkaitan emosional guru dengan siswa. Dalam pelatihan, dikatakan oleh para trainer bahwa hanya perlu waktu kurang dari 1 menit untuk mengenali emosi-emosi yang muncul dalam suatu momen. Pengungkapan perasaan akan membantu dalam mengendalikan emosi, membantu mengidentifikasi masalah, dan mempertahankan kejelasan hubungan dengan orang lain. Mengatakan, ‘saya senang’, ‘saya frustasi’, ‘saya kesulitan’, akan sedikit melepaskan emosi yang tertahan sehingga dapat berkonsentrasi pada hal lain, berpikir dan bertindak lebih dari sekedar diam saja. Sebagai guru yang berlaku seperti instruktur sangatlah menyenangkan bila bersama siswa yang dapat mengendalikan emosinya karena dengan itu kelas akan terkelola secara personal. Bila siswa mau mengucapkan kepada guru bahwa dia benar benar frustasi karena salah terus dalam menjawab soal, maka penulis rasa ini lebih baik daripada siswa yang melampiaskannya dengan kegaduhan, membuang atau menyobek pekerjaannya. Kadangkala masalah pada siswa menampakkan dirinya lewat perasaan lebih dulu, yang ditandai dengan wajah tegang atau keluarnya keringat, sebelum apa masalah sebenarnya terlahirkan. Dengan memberikan perhatian pada hal sepele sebenarnya guru dapat mengidentifikasi masalah siswa, misalnya: ada siswa yang mendadak sakit perut saat guru menyuruh dia untuk mengerjakan soal, atau saat guru mendekati meja siswa cepat-cepat dia bereaksi menutup pekerjaannya. Hal-hal seperti ini dapat dijumpai saat pelajaran berlangsung.Mengungkapkan suatu perasaan, mengakuinya sebagai perasaan guru

juga, membantu mempertahankan hubungan baik dengan siswa. Bila guru tampak cemas, karena waktu yang tidak cukup untuk menyelesaikan materi sesuai rencana, meski tidak dikatakan, kecemasan bisa jadi dianggap kemarahan oleh pihak siswa. Misalnya dengan sikap diam guru, ketergesa-gesaan, menahan nafas, pandangan tajam ke siswa, maka akan muncul dua masalah yaitu masalah yang dicemaskan sebelumnya, dan masalah hubungan emosional dengan siswa yang salah persepsi. Bila guru segera menyadari dan berhasil menyampaikan pada siswa bahwa kecemasannya itu tentang materi yang tak terselesaikan sesuai rencana, maka tinggal satu masalah lagi yaitu masalah kekurangan waktu, tetapi tidak sampai merusak hubungan emosi dengan siswa.

Walaupun bukan psikolog, sebagai guru matematika penulis menangkap emosi-emosi yang muncul di kelas, yaitu kegembiraan, percaya diri, ketakutan, kecemasan, kelupaan saat ujian, kebosanan, kesal, tersisih, dan trauma belajar.
1. Kegembiraan.
Guru mengajarkan matematika yang dituju adalah rasa senang/enjoy dalam bermatematika (istilahnya matematikaria) dan kesenangan dalam pengajarannya. Matematikaria adalah rasa senang yang dapat dirasakan guru dan siswa saat terlibat dalam persoalan matematika, seperti, perasaan saat berhasil menemukan pola matematis, atau menemukan cara yang berbeda dalam mendapatkan jawaban yang benar untuk satu persoalan yang sama. Siswa berseru girang saat dapat menemukan jawaban yang dicari, guru senang melihat penemuan siswa. Guru berbagi kegirangan dengan siswa dalam waktu bersamaan.
2. Percaya diri
Seorang guru matematika terkadang mempunyai mindset ingin mengetahui di mana letak error/kesalahan-kesalahan siswa yang sering terjadi dalam penguasaan matematika. Mindset seperti ini memang akan bermanfaat bagi guru yaitu untuk menggambarkan apa-apa saja yang harus di review, untuk mengetahui cara-cara menerangkan yang lebih berhasil, dan mengetahui pola-pola kesalahan yang siswanya. Tetapi bila guru begitu sering mengemukakan kesalahan siswa dalam pekerjaannya, kadang siswa malah turun rasa percaya dirinya. Padahal, rasa percaya diri inilah yang sangat diperlukan siswa untuk mengambil keputusan dalam belajar matematika, untuk memutuskan cara mengerjakan soal-soal matematika, untuk meyakinkan dirinya mampu menjawab soal itu. Untuk meyakinkan mereka ini mampu bermatematika sekarang atau mendatang maka mereka harus memiliki keyakinan bahwa mereka telah mampu mengerjakan di waktu lampau. Dalam menumbuhkan keyakinan siswa, akan lebih berarti bagi siswa bila guru memberikan catatan dan komentar pada jawaban benar yang dikerjakan siswa daripada memberi komentar/catatan pada pekerjaan yang salah. Maksud dari ini adalah agar siswa memahami bahwa persoalan matematika dapat diselesaikan dengan memecahnya menjadi tahap/bagian bagian lebih kecil yang harus dikerjakan dengan benar sampai persoalan utamanya terselesaikan. Dengan cara ini siswa mengetahui langkah yang sudah benar, dan termotivasi meneruskan ke langkah selanjutnya.
3. Ketakutan
Pelajaran matematika dikenal menjadi momok bagi banyak siswa. Karena takut, siswa cenderung menghindar dari guru. Bertemu guru matematika seakan bertemu matematika. Saat guru bertanya seperti, ‘Apakah sudah jelas? Mengerti? Bisa? mereka menjawab,’ya’, sambil tetap menyembunyikan pekerjaannya. Saat guru benar-benar meneliti pekerjaan yang dikumpulkan, barulah ketahuan kalau siswa itu sebenarnya sangat perlu bantuan. Kalau ditawarkan bantuan guru, siswa seperti ini akan beralasan misalnya, dia akan mengerjakannya di rumah bersama guru les atau saudara. Padahal bila di cek, belum tentu siswa benar-benar mau mengerjakannya. Strategi yang dapat dipakai adalah, saat bertemu siswa seperti ini guru tidak langsung menanyakan pekerjaannya. Guru dapat menanyakan kondisinya, pendapatnya tentang pelajaran, cara mengajar, atau tentang bobot soal yang diberikan. Memang masih ada kesempatan siswa menghindar, namun bila siswa tidak mampu berkelit, pertanyaan itu akan mengundang siswa untuk mengartikulasikan pikirannya tentang matematika.
4. Kecemasan
Kecemasan muncul saat siswa berada pada situasi tidak nyaman dan dia berkeyakinan tidak mampu mengerjakan atau menjawab persoalan. Untuk mengatasi hal ini guru dapat menyampaikan pada siswa bahwa setiap orang punya kecemasan, termasuk guru dan siswa, tetapi selalu ada cara untuk keluar dari kecemasan. Guru dapat mengajak siswa berelaksasi, semacam tarik nafas, di tahan, dihembuskan pelan-pelan. Atau model ice breaking seperti bermain kereta-keretaan berjalan keliling kelas sambil diperbolehkan melongok pemandangan di luar jendela. Saat mereka dapat tertawa dengan joke dari guru maka kecemasan akan hilang.
5. Kelupaan saat ujian
Ada siswa yang mengatakan bahwa dia paham waktu diterangkan di kelas, mampu mengerjakan PR dengan benar, tetapi saat menghadapi ujian semua kemampuannya lenyap, segalanya menjadi sulit, dan lupa, bahkan untuk menulis namanya sendiri. Apa yang perlu dilakukan guru? Pertama, guru mengingatkan pada siswa tersebut bahwa tak akan ada kejutan dalam ujian nanti. Semua yang akan dites pernah dipelajari baik bahasanya, model soalnya, maupun isi materinya. Kedua, guru mengajarkan strategi menghadapi tes. Inti pesannya adalah menyampaikan bahwa saat belajar menghadapi ulangan matematika, siswa diminta melakukan apa yang dimaksudkan oleh soal itu, maka persiapannya adalah mempelajari contoh-contoh soal yang akan diujikan. Siswa mengerjakan ujian bukanlah kegiatan membaca soal/teks atau melihat orang lain bekerja. Ujian meminta siswa untuk mengerjakan soal, maka belajar tentunya adalah melakukan/mengerjakan bukan membaca/mengamati buku saja. Ketiga, doronglah siswa untuk mau bertanya hal/instruksi soal yang tidak jelas baginya selama test berlangsung. Tentunya tidak sampai diberitahu jawabannya. Keempat, beri kesempatan siswa itu untuk mengikuti tes tersendiri.
6. Kebosanan
Hal ini bisa terjadi karena materi yang terlampau sulit maupun terlalu mudah. Cara menghindari kebosanan, seorang guru memang harus kreatif untuk menampilkan hal-hal baru, mengolah materi yang sulit menjadi terlihat mudah, atau gunakanlah strategi ‘angkat anak sapi’ (tahap dari mudah ke sulit terjadi dengan tak terasa).
7. Kesal/frustrasi
Ini terjadi baik pada guru maupun siswa bila suatu materi sudah diterangkan berkali-kali tetapi belum juga dipahami. Siswa akan merasa frustrasi karena dia juga sulit memahami penjelasan guru atau sikap guru yang terlihat pilih kasih. Sepandai-pandai guru menyimpan kekesalan bahasa tubuh tetap dapat ditangkap siswa. Menurut penulis, wajar saja guru terlihat kesal di depan siswa. Justru itu yang menunjukkan guru adalah manusia biasa. Tetapi, sebaiknya guru menyusun ungkapan yang tepat di depan siswa untuk menyelesaikan kekesalan itu, misalnya, dengan mengajak untuk mengulang dari awal atau meminta waktu untuk menyiapkan contoh/penjelasan lain yang lebih mudah dipahami. Jangan lupa pula untuk berlaku adil di depan siswa.
8. Tersisih/terhina
Anak yang ketinggalan dalam pelajaran sering merasa tersisih, terutama saat mereka diberi tugas/pertanyaan. Siswa yang merasa tidak bisa akan pasif karena bila mereka menjawab malah ditertawakan. Guru perlu menjaga jangan sampai muncul olok-olok yang mengarah ke penghinaan.
9. Trauma belajar
Dari pengalaman mengajar, penulis menemui siswa yang pernah mengalami tindak kekerasan dari guru cenderung trauma. Dia akan merenggangkan diri atau pikirannya tidak fokus ke pelajaran. Artinya, guru harus menciptakan rasa aman saat proses belajar mengajar, dan meyakinkan bahwa siswa tidak akan mengalami hal serupa.
Untuk berhadapan dengan perasaan/emosi yang berhubungan dengan pembelajaran matematika di kelas ini, langkah awal, penulis mendaftar semua hal yang sekiranya dapat membantu. Di antaranya bantuan seorang konselor, orang yang biasa mengajarkan keterampilan belajar, atau orang-orang yang mensupport siswa. Seringkali penulis memang berkonsultasi dengan guru bimbingan konseling tentang berbagai masalah emosi siswa selama proses pembelajaran. Tindak lanjutnya adalah melibatkan konselor di kelas. Saat diberi kesempatan untuk masuk kelas konselor akan memberikan pemaparan topik solutif seperti manajemen stress, menjadi siswa yang berhasil, menjaga hubungan yang positif dengan guru, persiapan ujian, dan konsep berpikir positif. Satu hal penting, guru juga sebaiknya mengikuti pemaparannya karena akan memberi kesan positif bahwa hal itu berkaitan dengan pembelajaran matematikanya, bukan sekedar menghormati pembicara saja, tetapi guru juga akan tahu hal apa saja yang diungkapkan dan ditanyakan siswa. Selain itu juga akan menunjukkan bahwa guru benar-benar ikut terlibat dalam mengatasi problem pembelajaran di kelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s