Pengembangan Profesionalisme Guru Pendidikan Jasmani Di Era Globalisasi

Posted: November 12, 2011 in MAKALAH
A.    PENDAHULUAN
a.       Latar Belakang
Guru pendidikan jasmani merupakan salah satu komponen utama dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu, berusaha memahami tantangan dan masalah yang akan dihadapi oleh guru pendidikan jasmani pada masa depan merupakan upaya yang baik untuk mengembangkan profesionalisme guru pendidikan jasmani di era globalisasi. Peningkatan peranan dan pengembangan profesionalisme guru pendidikan jasmani, di samping bergantung kepada program yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat, pada akhirnya lebih banyak bergantung kepada inisiatif dan kemauan guru itu sendiri untuk meningkatkannya. Tanpa kemauan dan penghayatan yang kuat serta kecintaan yang mendalam terhadap profesi yang ditekuninya, maka hampir dapat dipastikan akan susah terjadinya perkembangan suatu profesionalisme.  Untuk mengantisifasi permasalahan yang dihadapi guru pendidikan jasmani di era globalisasi agar dapat mengangkat harkat dan martabat profesinya, maka upaya untuk meningkatkan peranan dan pengembangan profesionalisme guru pendidikan jasmani merupakan upaya yang perlu dilakukan secara bersama-sama, baik oleh unsur pemerintah, masyarakat, ataupun individu guru pendidikan jasmani itu sendiri.

Dalam menghadapi tantangan masa depan, perencanaan pengembangan profesional guru pendidikan jasmani dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) harus diubah dari yang berwawasan mikro menjadi berwawasan makro, antisipatif, ekstrapolatif, dan strategik (Depdikbud, 1995). Pendekatan makro berarti memperluas cakupan wawasan dalam perencanaan pendidikan tenaga kependidikan dengan meletakkan sistem pendidikan sebagai subsistem yang lebih luas, yaitu sistem pembangunan ekonomi. Antisipatif berarti bahwa perencanaan pendidikan tenaga kependidikan, termasuk guru pendidikan jasmani, bertumpu kepada tantangan-tantangan yang akan terjadi di masa depan, baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Eksploratif berarti bahwa dalam perencanaan pendidikan guru pendidikan jasmani harus bertumpu kepada kenyataan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai pada saat sekarang beserta permasalahannya. Memperhatikan ketiga pendekatan tersebut di atas, maka pendekatan strategik harus digunakan untuk memilih alternatif rancangan yang paling menguntungkan dan efisien dalam mencapai peran dan target yang telah ditetapkan (Depdiknas, 1995).
Ditinjau dari sudut profesi keguruan, tantangan yang paling besar pada era globalisasi adalah adanya arus informasi yang semakin cepat, semakin akurat, dan semakin beragam. Guru pendidikan jasmani merupakan salah satu komponen utama dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu, berusaha memahami tantangan dan masalah yang akan dihadapi oleh guru pendidikan jasmani pada masa depan merupakan upaya yang baik dalam rangka untuk  mengembangkan profesionalisme guru pendidikan jasmani pada masa mendatang.
Permasalahan yang dihadapi guru pendidikan jasmani dewasa ini dan pada masa yang akan datang adalah dapatkah guru pendidikan jasmani mengangkat harkat dan martabat profesinya sehingga guru pendidikan jasmani menjadi orang yang dapat digugu dan ditiru ?.
B.        PEMBAHASAN
a.      Peningkatan Peranan Guru Pendidikan Jasmani
        Dalam mengantisipasi tantangan yang harus dihadapi dengan masalah yang ada, maka upaya meningkatkan peran dan kualitas guru pendidikan jasmani dalam proses belajar-mengajar perlu dilakukan.
        Pertama, peningkatan pengajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) keolahragaan (Lawson HA, 2003). Peningkatan itu dilakukan mulai dari jenjang pendidikan dasar (SD dan SLTP), pendidikan iptek keolahragaan mulai diperkenalkan dengan cara meningkatkan proporsi pengajaran yang memberikan dasar pemahaman iptek keolahragaan dan mengintegrasikan kedalam mata pelajaran pendidikan jasmani, termasuk kedalam buku pendidikan jasmani. Kemudian pada tingkat SMA/SMK upaya tersebut perlu dilanjutkan dan dikembangkan dengan memberikan bekal kegairahan dan kemampuan untuk melaksanakan penelitian sederhana di bidang iptek keolahragaan. Ini berarti guru pendidikan jasmani tidak hanya diharapkan mampu mengajarkan pendidikan jasmani saja, tetapi  mempunyai penguasaan terhadap wawasan pengetahuan iptek keolahragaan yang memadai, mengintegrasikan pengajaran iptek keolahragaan kedalam bidang studi pendidikan jasmani yang diajarkannya. Penguasaan pengetahuan iptek tersebut akan dapat mendorong dan mendidik anak agar mampu melaksanakan penelitian sederhana di bidang iptek pendidikan jasmani. Tantangan ini dihadapi dan dituntut dalam rangka untuk mengembangkan profesionalisme guru, termasuk guru pendidikan jasmani.
        Kedua, penanaman nilai budaya masyarakat industri. Dalam  menghadapi persaingan global pada masa mendatang, penanaman nilai budaya masyarakat industri perlu dirintis dan dilakukan oleh para guru (Nurhadi, 1995), termasuk guru pendidikan jasmani pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Nilai budaya masyarakat industri, seperti: etos kerja, penghargaan terhadap waktu, hidup berencana, wawasan keunggulan, iptek, cinta kepada produk sendiri untuk menghidup suburkan hasil produksi industri sendiri, kebiasaan menabung untuk modal, dan kebiasaan kerja keras. Wawasan keunggulan memberikan motivasi untuk berkompetisi secara terbuka dalam menghasilkan produk dalam pasar global, baik melalui keunggulan komparatif ataupun keunggulan kompetitif. Jika keunggulan kompetitif  ini, dapat dikembangkan di antara guru pendidikan jasmani, maka semangat untuk berkompetisi dengan bangsa lain menjadi tinggi.
        Ketiga, untuk meningkatkan proporsi partisipasi pendidikan yang meningkat pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, peranan intervensi guru (Nurhadi, 1995), termasuk guru pendidikan jasmani sangat diperlukan. Intervensi ini dilakukan untuk memberikan motivasi dan dorongan agar siswa dan masyarakat dapat menginvestasikan dirinya dalam bidang pendidikan secara efektif dan efesien selaras dengan kebutuhan akan komposisi guru pendidikan jasmani yang diperlukan.
        Keempat, perubahan peranan dari guru sebagai sumber informasi menjadi guru sebagai fasilitator dan manager informasi (Tirta, 1997). Dengan perkembangan komunikasi dan teknologi modern, guru pendidikan jasmani tidak hanya memberikan pelajaran, tetapi mengkoordinasikan berbagai sumber belajar untuk kepentingan pengembangan materi pelajaran pendidikan jasmani bagi siswa. Guru pendidikan jasmani, selain harus menguasai ilmu yang diajarkannya, juga harus memberikan petunjuk tentang sumber informasi lain yang dapat membantu siswa dalam memahami ilmu pengetahuan. Untuk itu, guru pendidikan jasmani harus selalu mengikuti perkembangan sumber informasi yang mungkin dan dapat diperoleh siswa, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja di sekolah dan di luar sekolah. Jika guru pendidikan jasmani tidak dapat memperoleh isi informasi yang bersumber dari luar sekolah karena terbatasnya fasilitas yang dimilikinya, sedidak-tidaknya guru dapat menunjukkan kepada siswa agar sumber informasi itu dapat dimanfaatkan.
        Dalam peran sosialnya di masyarakat, seorang guru pendidikan jasmani tidak lagi bisa sebagai sumber informasi yang mahatahu tentang semua ilmu pengetahuan karena sumber informasi lain di masyarakat yang menjadi rivalnya cukup banyak. Oleh sebab itu, peran guru harus diubah menjadi agen pembaharu dan pengorganisasi perubahan-perubahan di masyarakat. Ini berarti, bahwa guru pendidikan jasmani selain harus menguasai bidang studi pendidikan jasmani, juga perlu menguasai metodologi mencari sumber ilmu pengetahuan yang ada di masyarakat. Seorang guru tidak lagi menggurui masyarakat, tetapi lebih sebagai motivator, dan organisator masyarakat.
        Jadi, peran guru pendidikan jasmani dalam era komunikasi dan teknologi modern harus berubah dari peran sebagai seorang pengajar menjadi seorang fasilitator ataupun seorang manager informasi.
        Kelima, perubahan peranan guru dari penceramah menggurui menjadi pendengar yang emphatik (Tirta, 1997). Filosofi Tut Wuri Handayani, yang menjadi dasar proses pendidikan belum menjadi pengalaman nyata bagi siswa dan guru pendidikan jasmani. Guru tetap mendominasi kegiatan belajar mengajar, kata-kata guru harus didengarkan dan dipatuhi oleh semua siswa. Akan tetapi, siswa masa kini lebih membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan suara hati mereka. Menjadi pendengar yang emphatik berarti berusaha “masuk” ke dalam hati para siswa. Hasrat (mood) seorang guru hendaknya bertanya (Socrates) dan mendengarkan jawaban-jawaban siswa yang beraneka ragam tersebut. Dengan demikian, belajar berarti mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah.
        Keenam, untuk meningkatkan kualitas pendidikan guru pendidikan jasmani dilakukan antara lain dengan memberikan kesempatan untuk belajar,  baik melalui program pendidikan dan pelatihan yang bergelar  ataupun tidak bergelar dalam jangka pendek atau jangka panjang, ataupun melalui program tatap muka dan jarak jauh. Ini dapat dilakukan dengan mengadakan program penyetaraan, baik yang bersifat tatap muka ataupun dengan cara jarak jauh, serta penataran-penataran singkat sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, diharapkan nantinya semua guru pendidikan jasmani Sekolah Dasar (SD) diharapkan minimal berpendidikan serendah-rendahnya diploma dua (D2), guru pendidikan jasmani Sekolah Menengah Pertama (SMP) serendah-rendahnya berpendidikan Diploma Tiga (D3) dan guru pendidikan jasmani SMA/SMK serendah-rendahnya berpendidikan Strata Satu (S1) (Nurhadi, 1997; Tengah, 1995).
b.      Pengembangan Pendidikan Guru Pendidikan Jasmani
        Dalam rangka mengantisipasi tantangan yang dihadapi pada masa depan dan memperhatikan permasalahan yang dihadapi masa kini, maka perlu dilakukan orientasi ulang terhadap upaya pengembangan pendidikan guru pendidikan jasmani.
        Pertama, hanya lulusan (out put) yang bermutu dapat mempunyai nilai kompetitif tinggi (Sumantri HM, 1997). Lulusan yang demikian ini, hanya dapat dihasilkan oleh tenaga guru pendidikan jasmani yang sudah terampil serta mempunyai pengalaman di lapangan yang didasari dengan konsep ilmu pengetahuan yang kuat. Proses pendidikan di LPTK, harus dikaitkan dan disepadankan (link and match) dengan keterampilan praktik yang dialami di dunia pendidikan yang sebenarnya. Kebutuhan untuk keterkaitan dan kesepadanan ini menjadi sangat penting pada jenis-jenis pekerjaan seperti guru pendidikan jasmani.
        Kedua, untuk mengantisipasi pemenuhan kebutuhan guru yang berubah selaras dengan pergeseran struktur demografi ataupun kebutuhan struktur tenaga kerja dan perkembangan iptek, maka upaya untuk membuat sistem pendidikan guru yang lebih fleksibel yang mampu menghadapi tantangan pasang surutnya kebutuhan akan guru pendidikan jasmani yang diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS), sangat diperlukan untuk menekan terjadinya pemborosan.
        Pengembangan Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) pada Fakultas Pendidikan Ilmu Keolahragaan diarahkan untuk menghasilkan calon guru pendidikan jasmani yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang kuat di bidang pendidikan jasmani dan kemampuan metodologi pengajaran, serta mempunyai peluang pasar yang lebih fleksibel dalam menghadapi perkembangan iptek, yang diimplementasikan antara lain dalam bentuk pengembangan kurikulum. Peningkatan kemampuan bidang studi pendidikan jasmani dilakukan dengan mempertinggi bobot mata kuliah bidang studi, sedangkan peningkatan metodologi pendidikan jasmani dilakukan dengan meningkatkan intensitas kegiatan praktik mengajar. Selain itu kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga lulusannya memiliki fleksibilitas horizontal ataupun vertikal. Fleksibilitas horizontal dengan maksud agar lulusan dapat mengajar lebih dari satu bidang studi dalam satu rumpun. Ada pula pemikiran agar fleksibilitas horizontal ini dapat memberikan kemampuan lain, selain profesi guru.
        Sifat fleksibilitas vertikal dimaksudkan untuk memberikan kemampuan profesional kepada calon guru pendidikan jasmani untuk dapat mengajar, baik di SD, SMP ataupun SMA/SMK. Fleksibilitas dapat pula diartikan memberikan kewenangan kepada Fakultas Pendidikan Ilmu Keolahragaan dalam mengembangkan kurikulumnya sesuai dengan variasi kebutuhan di daerah. Oleh karena itu, isi kurikulum yang ditetapkan secara nasional hanya berkisar 60 sampai dengan 80 persen, sedangkan sisanya dapat dikembangkan sendiri oleh Fakultas Ilmu Keolahragaan yang bersangkutan sebagai kurikulum muatan lokal.
        Ketiga, mengingat sumber daya yang dapat disediakan oleh pemerintah terbatas, sementara itu mutu harus ditingkatkan, maka peranan swasta dan partisipasi masyarakat perlu juga ditingkatkan untuk membantu upaya pengembangan lembaga pendidikan tenaga kependidikan. Upaya untuk mendapatkan bantuan dari masyarakat, pemberian beasiswa, atau model sponsor, perlu juga dikembangkan guna menggali dana dan sumber daya dari masyarakat. Menurut hasil penelitian uji coba dari Coplaner 1995 (dalam Nurhadi, 1995), bahwa potensi sumber daya masyarakat untuk menunjang program pendidikan masih cukup besar di semua lapisan masyarakat. Jadi, yang diperlukan adalah cara menggali dan memanfaatkannya secara optimal sumber daya yang ada di masyarakat tersebut.
        Keempat, dengan meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan dan menurunnya jumlah penduduk di pedesaan, maka pendekatan pemetaan sekolah dan kebutuhan guru termasuk guru pendidikan jasmani yang selama ini dipergunakan perlu dirubah. Perencanaan pendidikan guru termasuk guru pendidikan jasmani diintegrasikan dengan sistem pemetaan pengembangan perkotaan termasuk pemukiman penduduk pada masa mendatang.
        Kelima, untuk mengisi kebutuhan akan guru pendidikan jasmani di daerah terpencil dan di desa-desa yang semakin langka penduduknya, perlu dirancang program pendidikan guru pendidikan jasmani yang dapat menghasilkan guru pendidikan jasmani yang profesional yang dapat menjadi tutor pada SLTP terbuka (Jalal, 1997).
        Keenam, perencanaan pendidikan guru pendidikan jasmani pada masa mendatang dituntut tidak hanya berorientasi kepada upaya untuk memberikan kesempatan memperoleh pendidikan, tetapi bagaimana dapat memberikan layanan pendidikan yang bermutu pada masa mendatang (Lawson, 2003).
        Ketujuh, pendidikan guru pendidikan jasmani memerlukan biaya yang mahal, sementara itu keuntungan baliknya baru dapat diperoleh beberapa tahun lagi (Nurhadi, 1997). Investasi di bidang pendidikan pada masa depan akan dituntut seefisien mungkin. Ini berarti,  walaupun pendekatan tuntutan akan tenaga kerja dipergunakan dalam perencanaan pendidikan guru pendidikan jasmani di jenjang pendidikan tinggi, perlu estimasi besaran nilai balik dari investasi yang telah dilakukan perlu dipertimbangkan.
C.        PENUTUP
        Guru pendidikan jasmani merupakan salah satu komponen utama dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu, berusaha memahami tantangan dan masalah yang akan dihadapi oleh guru pendidikan jasmani pada masa depan merupakan upaya yang baik untuk mengembangkan profesionalisme guru pendidikan jasmani di era globalisasi.
        Peningkatan peranan dan pengembangan profesionalisme guru pendidikan jasmani, di samping bergantung kepada program yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah ataupun masyarakat, pada akhirnya lebih banyak bergantung kepada inisiatif dan kemauan guru itu sendiri untuk meningkatkannya. Tanpa kemauan dan penghayatan yang kuat serta kecintaan yang mendalam terhadap profesi yang ditekuninya, maka hampir dapat dipastikan akan susah terjadinya perkembangan suatu profesionalisme.
        Untuk mengantisifasi permasalahan yang dihadapi guru pendidikan jasmani di era globalisasi agar dapat mengangkat harkat dan martabat profesinya, maka upaya untuk meningkatkan peranan dan pengembangan profesionalisme guru pendidikan jasmani, merupakan upaya yang perlu dilakukan secara bersama-sama baik oleh unsur pemerintah, masyarakat, ataupun individu guru pendidikan jasmani itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s