Nakal??Belum Tentu!!

Posted: December 25, 2011 in MUTIARA KALBU

TIBA-tiba, nasi berserta lauk dan sayur milik Falen dimasukan ke akuarium ikan Koi koi peliharaannya. Ketika saya tanya, dengan cepat dia menjawab, makanannya sudah habis. Tumben, biasanya dia lama sekali kalau makan. Untuk memastikannya, saya menghampiri Falen. Ternyata, ketika mataku mulai melotot, dengan nada polos dia menjelaskan, “Ma, dari tadi Koi koi-nya lihatin aku maem. Mungkin dia laper, ya udah aku kasih saja.” Bagaimana saya mau marah? (cerita Mom Emy tentang Falen – 2,5 tahun).  Ya, ulah Falen atau anak lainnya kadang membuat Moms menjadi kesal. Label nakal pun ‘menancap’ di dirinya. Mengacu pada ilustrasi di atas, benarkah Falen anak yang nakal?
Teknik uji coba
Pada usia toddler anak mulai memahami dirinya mempunyai otonomi dan mempunyai dorongan yang kuat semata-mata hanya untuk ‘mencoba’ dan tahu ’apa respons’ sekitar jika dia melakukan hal tersebut. Maka jangan heran jika anak akan mengeksplorasi segalanya sampai ia puas. Sebenarnya tidak ada niat anak untuk nakal, jahat atau pun jahil. Jadi, jangan langsung melabel si kecil dengan sebutan nakal. Belum tentu apa yang dia lakukan itu nakal, melainkan sesuatu yang kreatif (banyak akal). Sedangkan yang dinamakan nakal adalah memiliki niat buruk terhadap orang lain, seperti tindak  kriminal, kejahatan dan kekurangajaran -mengejek atau tidak sopan kepada orangtua -, merusak, menjahati orang lain, dan seterusnya.

Membangun motivasi diri
Dengan memiliki buah hati yang banyak akal artinya dia berpotensi untuk membangun motivasi dari dalam dirinya. Mengambil inisiatif dan terus berkembang menjadi anak yang mempunyai motivasi dari dalam dirinya sendiri tentu akan berguna bagi masa depannya kelak. Memang, terkadang polah anak yang ‘terkesan’ nakal -padahal banyak akal- ini terasa menyusahkan Moms. Bahkan dianggap melanggar hukum orang dewasa. Jadi, jangan pernah bosan mengarahkan si kecil pada hal yang benar. Karena belum tentu semua motivasinya juga benar mengingat anak masih proses belajar.
Hadapi si banyak akal!
1.      Pahami tahapan usia anak yang senang mencoba semua hal dan respons yang terjadi setelahnya.
2.      Melihat si kecil dalam kacamata ’semuanya dalam proses belajar’. Sehingga Moms selain lebih sabar juga bijaksana menghadapi prilaku anak yang banyak akal.
3.      Jangan takut ikut serta setiap kali anak bereksplorasi. Misal, jika Moms melihat si kecil mencuci piring, ikutlah mencuci piring. Biarkan dia melakukan itu sambil memberi arahan. Perhatikan juga keselamatannya, gantilah piring kaca dengan piring plastik. Sehingga jika terjatuh, tidak melukainya.
4.      Berikan pengertian setiap hal yang akan ia lakukan, termasuk risiko apa yang akan terjadi. Misal, bila si kecil berlari kencang dan tidak berhati-hati maka bisa terjatuh dan melukai dirinya atau orang lain. Penjelasannya pun harus konkret, spesifik dan mudah dipahami anak.
5.    Dukungan dan apresiasikan segala tindakan si kecil jika ia mampu melakukan hal yang benar. Bisa dengan perkataan dan pelukan hangat untuknya.
6.    Terapkanlah peraturan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh (fleksibel). Namun tak sekadar boleh/tidak, berikan pula alternatif perilaku yang boleh. Misal, tidak boleh menggambar di dinding tapi BOLEH menggambar di buku/kertas. Jadi, anak tahu dimana tempat yang benar untuk menggambar.
7.     Jangan membuat aturan yang terlalu ketat atau terlalu banyak dimana bisa membuat anak kehilangan ruang untuk bereksplorasi. Perkembangan anak pun kurang optimal. Penerapan time out dan menuntut anak untuk merenungkan kesalahannya tidak akan efektif bagi si toddler. Ingat, mereka belum mampu melakukan proses refleksi yang abstrak secara mandiri.
8.     Ajak anak berdiskusi agar dia tahu apa yang dilakukannya dan bagaimana rasanya. Misal, jika terjatuh saat berlari kencang, ajaklah anak berbicara tentang kejadian tersebut. Seperti; kenapa bisa jatuh, bagaimana rasanya. Dengan demikian Moms juga membantu melihat sisi lain dari proses eksplorasinya tersebut.
9.    Menjadi teman main yang smart dan demokratis. Seperti ikut melompat di atas kasur saat si kecil sedang bermain. Tetap ingatkan untuk berhati-hati. Tanyakan pula apa efeknya setelah melompat-lompat. Misal, napas jadi terenggah-enggah atau lainnya. Ini merupakan bentuk bantuan Moms dalam proses eksplorasi si kecil.
(Sumber: Mom&Kiddie) (nsa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s